Jumat, 10 November 2017

[lagi] Kehilangan

Setelah lama tidak menulis, akhirnya pengen nulis lagi. Haha
tapi sayangnya kali ini, pengen mengeluarkan isi hati sedikit.. 

Jadi begini...

Mungkin karena hati yang bepenyakit hingga karena dosa semakin menumpuk.
Mungkin belum lulus ujian,hingga berkali-kali kecewa dengan orang yang dipercaya.
Itulah poin kesalahan kamu dan harusnya kamu hanya boleh percaya kepada Allah swt dan dirimu sendiri
Sebetulnya bingung mau bahagia, marah tapi juga ketawa ternyata setelah seksama dipikirkan, kesimpulannya, aku kembali salah anggap.


Tapi..selalu ada hikmah disetiap peristiwa dalam hidup,
Semua pembelajaran, mungkin karena sengaja atau tidak juga pernah melakukan hal itu ke orang lain hingga Allah swt mengingatkan dan ingin mengajarkan bagaimana bila diposisi mereka.

Yang penting, life so must go on
Don’t give up


Udah cuma mau nulis itu aja :D
Sebetulnya sedih sebelum meninggalkan kota Yogyakarta malah merasakan ini namun semua yang terjadi bukankah sudah digariskan...
Belajar bersyukur dengan apapun.

Semoga bisa naik kelas :)

Dari Sahabat yang kehilangan
Mohon maaf yang sebesar-besarnya

Mona Sari


Jumat, 22 Juli 2016

“ Belajar dari Pengembara dan Bersiap Move Up “ (Sekilas tentang Liburan Semester Satu di Palembang Sweet)



 “ Belajar dari Pengembara dan Bersiap Move Up
(Sekilas tentang Liburan Semester Satu di Palembang Sweet)
Oleh : Monasari

Betapa bersyukur ketika diberikan kesempatan liburan semester dan berkumpul lagi dengan keluarga. Sebenarnya liburan ini juga ingin melihat arah muara hati ini sekaligus menguji juga seberapa bersih hati ini. Well, kembali ke liburan tadi, jadi ceritanya liburan sebenarnya sudah dimulai dari tanggal 17 Juni, tetapi karena  masih ada agenda buka bareng S2 Fisika UGM 2015 dengan anak-anak panti Muhammadiyah Wates dan masih harus ambil data penelitian di Lab jadi baru bisa pulang ke Palembang tanggal 24 Juni 2016, itu pun masih meninggalkan teman-teman biomaterial yang kece badai (Mb Dyah, Mb Zida, Mb Firda) yang masih melanjutkan ambil data penelitian. Sungguh terimakasih pengertiannya mengizinkan kami anak rantauan pulang duluan. “Biomaterial” emang luar biasa deh apalagi pembimbingnya (Dr. Yusril).
 Image 1. Tim Biomaterial  UGM 2015 Genap 
(Minus Mas Ishak)

Image 2. Buka Bareng S2 Fisika UGM 2015 dengan Anak Panti Muhammadiyah Wates

Image 3. Saya dan Roni Kecil


Saya berangkat mudik ke Palembang pada 24 Juni dengan pesawat jam 09.10, sebelumnya ada agenda foto-foto dan perpisahan dengan gengs “Naura” (sahabat-sahabat surga yang tiada henti membantu diri ini berbenah untuk menggapai ridho-Nya..merekalah Teh Ulya, kk Yulita, Teh Iqna, Mb Yuan, Mb Devi. Sayangnya kurang Mb ita yang udah ke lampung duluan dan Mb Winni yang udah ke Medan juga…hiks hiks..Sedih sebetulnya pisah dari mereka  walau cuma sebulan..

Image 4. Gengs Naura Minus Mba Ita dan Mb Winni (Sahabat Surga)


Ok, Fokus ke liburan ya..Pesawat yang menerbangkan saya sampai di tanah Palembang pada pukul 11.00. Alhamdulilah sudah ada ibu dan lisa yang menjemput di Bandara. Tapi betapa sedih melihat Lisa yang pucat dan lemas karena sedang sakit, biasa penyakit lama. Setelah sampai dirumah, istirahat sebentar dan beres-beres. Setelah itu, pukul 14.00 langsung ke rumah sakit nganterin lisa ketemu dokternya. Namun, dokternya gak ada dan baru bisa bertemu untuk diperiksa hari Selasa jadi terpaksa pulang dan karena paniknya, saya membeli obat herbal “Gold G”.

Karena memasuki 10 ramadhan terakhir, sebetulnya liburan  diisi dengan “muhasabah diri” serta agenda-agenda buka bareng sama rekan-rekan. Agenda buka bareng diawali pada hari Senin, 27 Juni bereng teman-teman di EXPPMS. Namun sebelumnya, pagi-pagi di hari Senin terlebih dahulu menyusuri jalan menuju Mandiri A’Rivai ngurus ATM  Bidikmisi kemarin, lalu main ke kampus FKIP Unsri Layo ketemu bapak-bapak yang luar biasa. Saya bersyukur bertemu keluarga sendiri yakni Pak Hamdi, Pak Ismet dan Pak Ketang serta rekan-rekan himapfis yang waktu itu sibuk ngurusi skripsi deh..Semangat yaaa …Seperti biasa, saya diminta untuk sosialisasi LPDP, baru sampai di kelas, langsung diminta untuk ngisi materi LPDP oleh Pak Hamdi padahal sebenarnya masih lelah karena perjalanan ke Layo Macet satu jam jadi dua jam dan harus rebutan, gak kenal mau cewek mau cowok yang penting dapat bus. Alhamdulilah masih ada bus dosen jadi numpang dulu di bus dosen, terbersit si dalam hati, sebentar lagi saya harus menjadi pengajar agar dapat tempat duduk nyaman di bus dosen karena mirisnya saya duduk di lantai bus dan beralaskan koran. Rela deh karena Pak Hamdi dan adik-adik yang lagi kuliah semester pendek (SP) udah nungguin. Seperti biasa kalau udah di layo gak bisa sebentar, akhirnya baru pulang ke Bukit tempat buka bareng jam 16.00 WIB itu pun masih harus berjibaku cari bus yang berangkat cepat ke Palembang. Lucunya, saya jatuh ketika lari-lari ngejar bus.  Akhirnya jam 17.30, saya tiba di masjid Alghazali, dan saya menyesal harus terlambat 30 menit. Disana sudah ada ciwi-ciwi EXPPMS. Setelah buka dan sholat magrib, kami pun makan  di Pecel Lele dekat masjid. Ya, Alhamdulilah acara buka bareng mereka berjalan lancar, sembari saya kasihkan barang-barang titipan dari Yogyakarta. Disaat yang sama, kami kedatangan tamu kehormatan juga nih, Ketua IKM Pasca Sumsel di Yogyakarta yakni kak “Adhan Effendi” yang mau ambil titipan Bakpia. Haha…Kakak yang selalu mendoakan saya bakalan nikah 2017. Amin. Setelah selesai buka puasa, saya menginap  di tempat Suci. Keesokan harinya, saya kembali mengantar Lisa ke RS Umum untuk bertemu dokter namun dokternya tidak ada dan akhirnya ganti dokter deh karena kondisi Lisa semakin parah. Alhamdulilah tidak harus rawat inap. 


 Image 5. Buka Bareng dengan Pasukan EXPPMS di Pecel Lele Bukit

Selanjutnya, saya melanjutkan “ Muhasabah “ di 10 malam terakhir. Sembari itu, saya meeting juga dengan Mba Elce di Masjid DPRD Palembang  tentang kegiatan seminar motivasi, pengalaman kuliah di UGM, LPDP dan tak lepas cerita jodoh, again and again sekaligus mbaknya mengemblikan buku saya yang dipinjam. 

Image 6. Meeting dengan Mba Elce di Masjid DPRD Palembang


Selain itu, muhasabah di dua malam terakhir bertemu dengan bupati PEA 2010 yakni mbak Ria Septiani. Entah saya merasa jodoh dengan  beliau ini, dimana-mana bertemu contoh ni : di Malioboro ketemu pas mau beli oleh-oleh sebelum pulang mudik dan lain-lain juga sih.. Jadi ceritanya, Alhamdulilah mba Ria udah jadi Maba Pasca UNY 2016. Alhamdulilah bertemu saudara yang  tarbiyah, Rasanya nano nano juga si. Barakallahu, insyaallah teman sharing, tambah teman kajian juga dan pastinya kos mbak Ria jadi basecamp kalau ada kegiatan di masjid Nurul Asri.
 Image 7. Saya dan Mb Ria Septiani (Bupati PEA 2010)

Acara buka bareng selanjutnya adalah dengan teman-teman alumni SMA XI dan XII IPA 2  SMAN 14 Palembang di PTC pada tanggal  4 Juli 2016. Seperti biasa, sekalian bertemu juga dengan teman-teman sepermainan ( Intan, Darma, Renny, Isty) dan teman-teman lain juga. Seperti biasa, dimanapun kumpul selalu keluar pertanyaan gini : “setelah S2 ngapain lagi dan terus kapan nikah “?  ya saya jawab, setelah S2 ngabdi dulu sambil apply beasiswa S3 di Tokyo University (Amin) dan insyaallah menikah di 2017 (berusaha PeDe aja kalau Allah sudah pertemukan di tahun 2017). 

Image 8. Buka Bareng dengan Alumni XII IPA 2 Palembang


Akhirnya hari kemenangan pun tiba yakni tepat pada tanggal 6 Juli 2016. Seperti biasa, Alhamdulilah kami bertiga (Ibu, Mona dan Lisa) bisa sholat Id bareng. Setelahnya, kami ke makam Ayah, dilanjutkan  silaturahmi ke tempat keluarga alm ayah seharian penuh. Keesokan harinya, dilanjutkan silaturahmi ke tempat keluarga Ibu di Mata Merah naik transmusi sweet lho.. Seperti biasa, dari tahun 2015 setelah lulus ditanyain :  “kapan nikah atau kapan mau kasih cucu ke Ibu “? awalnya cuek aja si tapi lama-lama kalau gak dijawab gak enak, psikologis Ibu juga secara hanya anak ibu yang masih jomblo sampai ada yang keceplosan kalau mona mau sekolah-sekolah aja terus..Ok,  akhirnya saya jawab bakalan nikah tahun 2017. Terus mereka balik nanya nih..” Neng Mona udah ada calon ya, sama siapa nanti nikahnya ? “. Saya jawab, “ belum ada calon yuk, masih memantaskan diri sampai menunggu Allah pertemukan. Ya Semoga di  2017. Terus mereka ketawa terbahak-bahak. “ Gimana neng, mau nikah kok belum ada calonnya atau pacarnya ? Saya jawab aja : Allah maha mengetahui, dan sudah diatur-Nya, manusia bisa berecana, berikhtiar dan tawakal. Allah yang memutuskan termasuk rezeki, jodoh dan maut. Alhamdulikah bisa kasih jawaban “wise”. Tumben !!!


 Image 9. Keluarga Fismatel UGM 2015 Genap
Image 10. Sanjo-Sanjo Tempat Keluarga

Kamis, 19 Mei 2016

Ketika Sampah Menjadi Berkah bagi Manusia sebagai Sumber Energi Alternatif (Penerapan Sistem Pengelolaan Sampah Negara Swedia di DIY)



Ketika Sampah Menjadi Berkah bagi Manusia sebagai Sumber Energi Alternatif
(Penerapan Sistem Pengelolaan Sampah Negara Swedia di DIY)

Oleh : Monasari, S.Pd
Program Studi S2 Fisika UGM Konsentrasi Fisika Material

Swedia merupakan salah satu negara maju yang termasuk dalam kawasan Eropa Utara dan memiliki beberapa keistimewaan. Meski terkenal sebagai negara perompak sesuai dengan makna dari bangsa Viking yang merupakan bangsa asli Swedia yang  berarti bangsa yang terkenal sebagai perompak dan meski tidak memiliki cukup sumber daya alam, Swedia merupakan salah satu negara maju di Eropa yang merupakan negara berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi tinggi serta mendorong ekspor manufaktur. Selain pertumbuhan ekonomi yang melaju pesat, Swedia juga sangat baik dalam pembangunan kota. Hal ini disebabkan Swedia memiliki konsep pembangunan kota yang berbeda sehingga ia selalu terlihat bersih, asri, dan nyaman. Swedia memang memiliki konsep pembangunan yang sedikit berbeda dibanding negara-negara Eropa lainnya. Swedia sangat mengedepankan pembangunan yang berorientasi pada kelestarian alam. Di kota seperti Gothenburg, kita bisa menjumpai banyak perumahan yang memiliki halaman belakang hutan pinus asli dan memiliki perusahaan pengelolaan sampah yang bernama Renova Sävenäs.
Swedia juga tercatat sebagai negara pengelola sampah terbaik dimana sampah-sampah diolah menjadi sumber energi. Dalam data statistik Eurostat, rata-rata jumlah sampah yang menjadi limbah di negara-negara Eropa adalah 38 persen. Swedia berhasil menekan angka itu menjadi hanya satu persen. Mayoritas sampah rumah tangga di negara Skandinavia itu bisa didaur ulang atau digunakan kembali. Satu-satunya dampak negatif dari kebijakan ini adalah Swedia kini kekurangan sampah untuk dijadikan bahan bakar pembangkit energinya sehingga  Swedia kini mengimpor 800 ribu ton sampah per tahun dari negara-negara tetangganya di Eropa seperti Norwegia, Rumania, Bulgaria dan Italia. Mayoritas sampah ini berasal dari Norwegia. Sampah-sampah ini sekaligus untuk memenuhi program Sampah Menjadi Energi (Waste-to-Energy) di Swedia. Dengan tujuan utama mengubah sampah menjadi energi panas dan listrik. Bagi Swedia, mengimpor sampah adalah pemikiran maju dalam hal efisiensi dan suplai energi bagi kebutuhan manusia. Membakar sampah dalam insinerator mampu menghasilkan panas dimana energi panas ini kemudian didistribusikan melalui pipa ke wilayah perumahan dan gedung komersial. Energi ini juga mampu menghasilkan listrik bagi rumah rakyatnya. Dengan insinerator, sampah dapat diubah menjadi abu. Namun, sebelum sampai tahap insinerator sampah yang dapat didaur ulang menjadi prodak baru atau kompos dipisahkan dulu. Berdasarkan penjelasan Anto, salah satu peneliti LIPI menyebutkan bahwa Selain Swedia, negara Jepang, Korea Selatan dan Singapura telah memakai insinerator sebagai teknologi untuk pengelolaan sampah. Berbeda dengan Indonesia yang masih enggan menerapkan insinerator karena khawatir gas buang yang beracun padahal sudah banyak dikembangkan insinerator plasma untuk menetralkan asap racun, sebagai contoh di Jepang sudah dimulai tahun 1990-an muncul insinerator plasma tersebut.
Beberapa fakta mengenai sampah di Swedia yakni : Pada tahun 2012, 2.270.000 ton limbah rumah tangga dibakar, dan diubah menjadi energi, pabrik pembakaran pertama didirikan di Stockholm pada tahun 1904, 32 tanaman di Swedia hari ini menghasilkan panas untuk 810.000 rumah tangga dan listrik untuk 250.000 rumah-rumah pribadi dan emisi logam berat telah berkurang 99 persen sejak tahun 1985, meskipun Swedia memancarkan tiga kali lebih banyak limbah saat ini (https://sweden.se/nature/the-swedish-recycling-revolution/).
Lebih dari 99 persen dari semua limbah rumah tangga didaur ulang dalam ini berarti bahwa negara itu telah melalui revolusi daur ulang dalam dekade terakhir, mengingat hanya 38 persen dari limbah rumah tangga didaur ulang pada tahun 1975. Saat ini, proses daur ulang adalah sebagai aturan yang harus ada tidak lebih dari 300 meter dari area perumahan. Kebanyakan masyarakat swedia memisahkan semua limbah daur ulang di rumah mereka dan menyimpannya dalam wadah khusus di di rumah atau digunakan untuk proses daur ulang.
Beberapa kebijakan Swedia untuk mengelola sampah terdiri dari : (https://sweden.se/nature/the-swedish-recycling-revolution/)
1.      Meningkatkan Daur Ulang
Weine Wiqvist, CEO Asosiasi Manajemen dan Daur Ulang Limbah Swedia (Avfall Sverige), masih berpikir Swedia bisa melakukan lebih, mengingat bahwa sekitar setengah dari semua limbah rumah tangga dibakar, yaitu, berubah menjadi energi. Dia menjelaskan bahwa penggunaan bahan kembali atau produk berarti menggunakan lebih sedikit energi untuk menciptakan sebuah produk.
Sementara itu, masyarakat Swedia tetap memisahkan sampah koran, plastik, logam, kaca, peralatan listrik, bola lampu dan baterai. Banyak kota juga mendorong konsumen untuk memisahkan sampah makanan. Semua ini digunakan kembali, untuk daur ulang atau dijadikan kompos. Sebagai contoh, surat kabar berubah menjadi kertas, botol digunakan kembali atau dibuat menjadi barang-barang baru, wadah plastik menjadi bahan baku plastik,  makanan disintesis menjadi tanah atau biogas melalui proses kimia yang kompleks,  air yang terbuang dimurnikan sampai sebatas menjadi minum, truk sampah khusus berkeliling kota dan mengambil elektronik dan limbah berbahaya seperti bahan kimia. Apoteker menerima obat sisa. Swedia mengambil sampah mereka yang  lebih besar, seperti TV digunakan atau peralatan yang rusak, ke pusat daur ulang di pinggiran kota.

2.      Sampah Menjadi Energi
Mari kita lihat lebih dekat untuk 50 persen dari limbah rumah tangga yang dibakar untuk menghasilkan energi di insinerator.  Limbah adalah bahan bakar yang relatif murah dan Swedia telah mengembangkan keterampilan dan kapasitas besar dalam pengolahan limbah yang efisien dan menguntungkan. Swedia bahkan mengimpor 700.000 ton limbah dari negara lain. Abu yang tersisa merupakan 15 persen dari berat sebelum terbakar. Dari abu, logam dipisahkan dan didaur ulang, dan sisanya, seperti porselen dan keramik, yang tidak membakar, yang diayak untuk mengekstrak kerikil yang digunakan dalam konstruksi jalan. Sekitar satu persen masih tetap dan disimpan di tempat pembuangan sampah. Asap dari instalasi pembakaran terdiri dari 99,9 persen karbon dioksida non-beracun dan air, namun masih disaring melalui filter kering dan air. Filter kering disimpan. Lumpur dari air filter kotor digunakan untuk mengisi ulang tambang yang ditinggalkan.
3.      Penetapan Kebijakan Pemerintah yang Mendorong  Produsen Membuat Produk dari Sampah
Hans Wrådhe kepala bagian untuk limbah dan bahan kimia di Badan Perlindungan Lingkungan Swedish (Naturvårdsverket) mengusulkan retribusi lebih tinggi pada pengumpulan sampah. Bersama-sama dengan instansi pemerintah dan perusahaan, Wrådhe telah mengembangkan rencana untuk pencegahan limbah, termasuk bagaimana mendorong produsen untuk membuat produk yang bertahan lebih lama. Badan ini juga mempertimbangkan mengusulkan pengurangan pajak untuk beberapa perbaikan.

4.      Dukungan Perusahaan Besar untuk Kebijakan Sampah Menjadi Sumber Energi
Beberapa perusahaan Swedia telah secara sukarela bergabung dalam usaha pengelolaan sampah misalnya H & M telah mulai menerima pakaian bekas dari pelanggan dalam pertukaran kupon dalam sebuah inisiatif yang disebut Garment Collecting. Perusahaan Optibag telah mengembangkan sebuah mesin yang dapat memisahkan limbah tas berwarna satu sama lain. Orang membuang makanan dalam kantong hijau, kertas dalam kantong merah, dan kaca atau logam lain. Setelah di pabrik daur ulang, sortir Optibag berjalan otomatis. Dengan cara ini, pemancar pemilahan sampah bisa dihilangkan. Selain itu, kota Swedia selatan Helsingborg bahkan dilengkapi tempat sampah masyarakat dengan pengeras suara  sambal bermain musik menyenangkan.
Selain beberapa kebijakan diatas, ada beberapa program lain yang diterapkan Swedia dalam pengelolaan sampah diantaranya :
5.    

Jumat, 11 September 2015

PENGALAMAN APPLY BEASISWA LPDP AFIRMASI 2015 HINGGA DINYATAKAN LULUS



Alhamdulilah, terimakasih kepada Allah SWT yang senantiasa memberikan nikmat dan karunia-Nya yang tak terhingga, salah satunya nikmat kesempatan bagi saya bisa berbagi pngalaman untuk mendapatkan beasiswa LPDP Afirmasi Bidik Misi Cumlaude 2015 Program Magister Dalam Negeri.

Pada tanggal 6 Agustus 2015, LPDP memberikan pengumuman peserta yang lolos seleksi administratif, Alhamdulilah saya termasuk salah satu yang diberikan kesempatan lulus tahap ini. Sebetulnya, untuk lulus seleksi administratif, kita hanya perlu mengikuti syarat dokumen2 yang diminta, tidak memalsukan dokumen, usahakan menulis essai dengan sejujurnya, rencana studi yang matang serta skor toefl yang cukup tinggi insyaallah akan diloloskan ke tahap seleksi substantif

Setelahnya, peserta yg dinyatakan lulus seleksi administratif wajib mengikuti seleksi substantif meliputi Wawancra, Leaderless Group Discussion Essai OnThe Spot.. kebetulan saya dapat jadwal 19-21 agustus di Student Center STAN Bintaro, Tangerang Selatan. 

Dua minggu sebelum tes, saya berusaha mencari rekan-rekan dari sumatera selatan yang kira2 lulus juga. Ternyata, tidak ada satu pun yang rezeki, malah saya banyak mendapat teman dari Indonesia timur. Awalnya, saya agak ragu berangkat tapi keraguan tidak berlangsung lama, ketekadan sudah bulat dan bismillah saya berangkat sendirian dari sumsel untuk melanjutkan perjuangan meraih beasiswa LPDP ini. 
.
Alhamdulilah memang saya dijakarta ada keluarga, tapi ketika disana, saya survey tempat dan kemana2 hanya bersama Allah saja...entah mendapat keberanian dari mana berkeliaran di ibu kota sendirian hingga sempat nyasar berkali kali. Salah satunya, mau ke tanah abang malah ke jati negara,haha.
Saya berangkat dari Palembang pada 18 Agustus 2015 jam 09.10 menuju Halim Perdana Kusuma, sampai di jakarta pukul 10.30. Tidak ada yang menjemput karena sepupu saya sibuk. Yaa modal berani saja naik taksi sendirian bermodalkan google maps menuju APT green pramuka city di jakarta pusat. Akhirnya berkat pertolongan Allah, saya sampai dengan selamat di APT jam 11.00.  Kemudian saya istirahat sebentar. Karena saya begitu penasaran mau survey tempat, akhirnya jam 15.00 saya nekad ke bintaro naik kereta sendirian.  Mula-mula saya naik bajaj ke stasiun manggrai, kemudian naik kereta ke tanah abang. Nah pas di tanah abang, saya sempat nyasar namun Alhamdulilah masih juga selamat. Setelah dari stasiun tanah Abang, saya naik kereta menuju pondok ranji, kemudian naik ojek menuju kampus STAN.. betapa bahagia saya stelah tiba di kampus pencetak alumni di kementrian keuangan apalagi serasa lebaran saat tahu lokasi tes ( Student Center STAN). Ternyata dari dpan kampus, harus masuk kedalam lagi untuk sampai di student center tapi semangat yang tinggi mengalahkan semuanya..

Akhirnya tak terasa jam sdah menunjukkan jam 16.30, mulailah saya berpikir bagaimana kembali ke jakarta pusat jam segini. Saya terus meminta kepada Allah agar dilancarkan. Memang rebut-rebutan kereta sdah biasa apalagi di stasiun Tanah Abang karena itu jam pulang kerja, tapi Allah masih memberikan keselamatan kepada saya karena saya mampu pulang ke jakarta pusat jam 18.30 ( kata sepupu saya si bisa dapat rekor muri karena PP jakpus-bintaro  hanya 3 jam)..hehe.

Singkat cerita, hari yang dinanti-nanti selama 6 bulan pun tiba. Tepat tanggal 20 Agustus, jadwal saya seleksi.
Saya berangkat dari cikini jakarta pusat naik bajaj menuju stasiun tanah abang untuk menghemat waktu. Tak tanggung-tanggung, saya berangkat habis sholat subuh alhasil kepagian sampai kampus STAN. Namun, kesempatan datang pagi ini saya gunakan untuk berkenalan dgn peserta yang lain, mengobrol, sharing2 hitung-hitung menghilangkan gugup. Alhamdulilah, saya bertemu dua teman yang kebetulan satu kelompok LGD dengan saya yakni kelompok 10 A jadi kami langsung sharing untuk saling mengenal. Saat pukul 08.00, saya mulai melaksanakan seleksi. Mula-mula, saya mendapat jadwal menulis essai pada 08.30-09.00. Saat seleksi menulis essai jadi kita diberikan dua topik yang sedang hangat di Indonesia, kemudian kita disuruh memilih salah satu saja untuk dibuatkan essai.  Kebetulan saya memilih topik tentang kekerasan terhadap  Anak. Waktu pengerjaan hanya 30 menit. Menulis essai ini tahap seleksi yang baru diterapkan pada lpdp gelombang 3 untuk jalur umum dan lpdp afirmasi gelombang dua.  Untuk sukses ditahap ini, usahakan seringlah membaca berita koran kompas yg ubdate karena topik-topik banyak diambil dari sana. Kembali lagi, saya hanya meminta kepada Allah untuk memudahkan saya membuat opini, solusi terhadap kasus kekerasan anak. Alhamdulilah Allah memberikan kelancaran. 

Selanjutnya pada pukul 09.10, kelompok LGD (leaderless group discussion) kami pun memasuki ruangan. Jadi dalam ruangan itu disetting meja bundar untuk peserta diskusi dan  ada dua psikolog handal untuk menilai jalannya LGD. Sesuai namanya, LGD tidak boleh ada pemimpin diskusi, semua berhak berbicara mengutarakan pendapatnya, bagi peserta dengan latar belakang pendidikannya sesuai topik LGD, bisa mengutarakan pendapat sebagai ahli, kemudian yang lain bisa menjadi pengamat, masyarakat dll. Alhamdulilah diskusi dalam kelompok kami lancar, kami mendapatkan topik menganai nilai-nilai pancasila yang mulai hilang.  Salah satu teman saya membuka diskusi dengan memperkenalkan diri dan menyampaikan prosedur diskusi. Kemudian setelahnya ada yang mengajukan diri sebagai notulen saja. Selanjutnya diskusi mengalir seperti air saja, dan menghasilkan kesimpulan yang luar biasa.  Alhamdulilah kami semua mendapatkan kesempatan berbicara padahal kami baru bertemu 10 menit sebelum diskusi. Kembali Allah memberikan saya kelancaran kepada saya. Rasanya waktu diskusi 40 menit sangatlah kurang bagi kelompok kami karena diskusi berjalan hangat, santai, tapi tetap berisi sehingga menghasilkan kesimpulan yang luar biasa.

Setelah LGD, saya kembali ke ruang depan untuk melakukan verifikasi berkas sebelum wawancara. Saya pun mengantri untuk verifikasi berkas dari jam 10.30-12.00. sembari menunggu, saya kembali berdiskusi dengan teman-teman dari segala pnjuru indonesia, ada teman dari solo, jakarta, bandung, Solo, Ternate, Ambon, Papua dll. Kebetulan ada artis Tasya Kamila yang juga lagi berjuang seperti saya untuk menjadi awardee LPDP. Great Experience. Alhamdulilah, bnyak ilmu yang saya dapatkan dari mereka. Alhamdulilah proses verifikasi berkas pun lancar.  Jam 12.00-13.00, saya melaksanakan ISHOMA.
Tepat pukul 13.00., seleksi dilanjutkan, Nah inilah puncaknya seleksi yakni wawancara. Saya tergabung dalam kelompok 11A

Saya pun mulai tegang padahal tadinya santai2 saja, apalagi waktu tunggu saya lumayan lama dari jam 13.00-15.00 karena teman diatas saya begitu lama wawancra. Hal ini membuat saya semakin gugup, dikepala saya sdah bnyak pikiran2 klau interviewer kelompok 11A ini mantap.  Saya hanya bisa tawakal saja karena sudah mulai lelah juga. Akhirnya tepat jam 15.00, saya dipanggil memasuki ruangan interview. Saya pun harus menunggu lagi karena dua interviewernya masih istirahat sbentar membuat minuman karena kelelahan mewawancara tman saya sebelumnya.Saya semakin gugup saja, perasaan camnpur aduk takkala salah satu interviewer membuka wawncara,

Ternyata saya mendapat interviewer yang terdiri dari dua orang Prof UI dan Satu Psikolog dari Makassar.  Perasaan saya semakin kalud takkala salah satu prof mulai melontarkan pertanyaan
a.       Profesional :
-          Mona, can you introduce your self, then you must explain your contribution for family, society and indonesia after you have finished your study in UGM ?
Masya Allah tiba-tiba saya langsung blank saja. Awalnya saya berusaha menjawab dengan full bahasa inggris tapi mungkin karena panik jadi tak karuan, akhirnya saya meminta izin menjawab dengan bahasa indonesia saja.Alhamdulilah beliau mengizinkan.
-          Jelaskan persyaratan untuk masuk UGM apa saja ?
Kebetulan saya sudah mencapai skor TPA 577,7 tapi toefl saya masih nyangkut makanya saya digempur habis-habisan. Bahkan menurut beliau,  saya membutuhkan waktu lama untuk mengupgrade toefl
-          Mengapa kamu ingin menjadi dosen ? apakah karena gajinya yang tinggi?
-          Kamu tidak perlu S2 kalau kamu hanya ingin mengembangkan lembaga pendidikan bagi kaum wonk cilik ( ya Allah tambah down saja)
- Jelaskan tokoh fisika indonesia yang kamu kagumi dan alasan mengagumi beliau ?

Kamis, 23 Juli 2015

The Miracle of Courage ( Cerita dibalik Tes TPA OTO BAPPENAS Pertama Kali dan Tembus 500 an)

The Miracle of Courage
( Cerita dibalik Tes TPA OTO BAPPENAS 14 Juni 2015)


Sebagai salah satu anak yang berasal dari kaum “wong cilik” dengan sebuah mimpi besar harus memiliki kenekadan yang bisa disebut “gila”  jika ingin mewujudkan mimpinya itu. Hal ini terjadi dengan saya saat mengikuti Tes TPA OTO Bappenas pada 14 Juni 2015 kemarin. Sertifikat tes ini nantinya berguna untuk mendaftar program S2 di beberapa universitas seperti UGM, ITB, ITS dan lainnya. Kebetulan saya akan melamar program S2 Ilmu Fisika UGM dengan jalur beasiswa LPDP Afirmasi Alumni Bidik Misi Cumlaude  Kementrian Keuangan. Walaupun saya harus menyadari kalau saya baru bisa mendaftar ke UGM tahun 2016 sesuai aturan beasiswa namun tak ada salahnya jika ingin mencoba tes TPA sekalian mengukur kemampuan juga. Mungkin saja skornya bisa tembus 500-an karena ini tes pertama kali bagi saya.
            Awalnya, ekspektasi untuk langsung lanjut S2 tahun 2015 setelah wisuda S1 sangatlah tinggi, dukungan dari berbagai pihak seperti dosen pembimbing, kaprodi, kajur bahkan dekan pun mengalir deras  karena saya tamat 3 tahun 5 bulan dengan IPK cumlaude 3.59 dan alumni bidik misi Universitas Sriwijaya namun karena saya memiliki tanggung jawab sebagai tulang punggung keluarga membuat saya mengalami kegalauan yang luar biasa. Saya harus membuat pilihan apakah langsung lanjut atau bekerja dulu. Namun, Allah swt memberikan solusi terbaik yang akhirnya saya memilih tetap melanjutkan S2 dengan mengikuti jalur beasiswa jadi sembari bekerja tak lupa juga mendaftar beasiswa. Singkat cerita, sebenarnya buku panduan belajar TPA sudah saya beli dengan gaji pertama saya mengajar pasca wisuda pada bulan Februari 2015 dan sempat menjadi pajangan takkala saya kalut dan galau menentukan pilihan, tapi akhirnya saya tersadar bahwa hidup akan terus berlanjut dan saya tak mau menjadi orang merugi dengan waktu sehingga diawal bulan mei,  Saya merasa jika buku TPA dengan harga mahal hanya digunakan sebagai pajangan saja sungguh saya termasuk orang yang merugi karena sertifikat tes TPA OTO Bappenas berlaku selama dua tahun jadi jika saya mengambil tes tahun 2015 akan berlaku sampai 2017 sehingga tidak ada yang sia-sia. Akhirnya, saya nekad mengikuti tes TPA OTO Bappenas yang kebetulan diadakan di SPS IPB Bogor pada 14 juni 2015.
            Seperti yang telah diketahui, Tes TPA OTO Bappenas adalah tes untuk mengukur kemampuan seseorang yang meliputi kemampuan verbal, numerik dan penalaran bagi seseorang yang ingin melanjutkan studi S2, S3 dan mengikuti tes-tes lain seperti CPNS, TNI, POLRI dsb. Tes ini terdiri dari 250 soal yang harus dikerjakan selama 3 jam. Biaya tes TPA OTO Bappenas sebesar Rp. 325.000. Berapapun skor TPA yang didapatkan peserta  maka peserta akan tetap mendapatkan sertifikat yang berlaku selama dua tahun. Inilah salah satu kelebihan dari tes TPA OTO Bappenas, selain itu, sertifikatnya pun dapat digunakan dimanapun dan diakui secara nasional. Tes TPA OTO Bappenas biasanya dilaksanakan sebulan sekali oleh Bappenas atau beberapa program pascasarjana universitas tertentu bekerja sama dengan Bappenas seperti kampus IPB.
            Tentunya, masing-masing universitas memiliki syarat nilai TPA berbeda-beda. Nilai TPA berkisar antara 200-800. Untuk S2, skor yang harus dicapai rata-rata 500 namun ada beberapa PTN mensyaratkan dibawah 500 seperti ITB sekitar 475 dan ITS sebesar 450. Dengan skor itu, seseorang dapat dianggap mempunyai kemampuan rata-rata. Sedangkan, studi S3 harus ditempuh minimal mencapai skor 550 atau bahkan 600.
            Akhirnya, dengan modal  dukungan dari  ibu, dosen pembimbing, dan guru mengaji,  saya nekad dan semangat saja berangkat ke Bogor pada 13 Juni 2015 untuk mengikuti tes TPA OTO Bappenas. Sebetulnya, saya juga tidak mengetahui lokasi tes namun rasa takut dikalahkan dengan kemauan dan semangat yang tinggi. Saya naik pesawat ke Jakarta dan tiba di bandara Soetta sekitar jam 17.30, untuk ke bogor Alhamdulilah saya diantarkan oleh temannya teman saya. Ya biasa perjalanan dari Jakarta-Bogor jika dalam waktu normal hanya membutuhkan waktu 2 jam saja ternyata harus menempuh perjalanan 4 jam karena macet di Jakarta dan kami juga sempat makan malam di salah satu restoran di Cibubur. Kebetulan malam minggu jadi ceritanya malam mingguan di Cibubur. Akhirnya, kami pun tiba di Bogor jam 22.00 WIB dan saya pun langsung istirahat karena keesokan harinya pelaksanaan tes yakni Minggu, 14 Juni 2015 di SPS IPB.
            Minggu pagi pun tiba dan disini luar biasa baru merasa kelelahan  karena badan saya semua pegal, mata mengantuk dan sedikit pusing tapi saya tetap optimis, nekad, semangat dan terus tawakal untuk menjawab soal tes TPA karena saya sudah jauh-jauh dari Palembang. Yaa.. kondisi fisik tak memungkiri sangat mempengaruhi saya dalam mengerjakan 250 soal TPA. Kecermatan, kecepatan sangat dituntut dalam mengerjakan. Setiap saya merasa blank dan lupa, saya berdoa saja kepada Allah Swt untuk melancarkan dan menyegarkan pikiran saya agar diberikan ketenangan dalam menjawab soal. Saat itu, saya hanya berharap bisa mencapai skor 500 saja karena skor itu yang dibutuhkan melamar ke UGM. 
            Akhirnya, waktu tiga jam berlalu sehingga tes selesai dilaksanakan. Saya terus berdoa saja agar Allah mengabulkan harapan-harapan saya. Saya dan teman memutuskan untuk mengambil sertifikat di Jakarta saja pada hari Jumat, 19 Juni 2015 di Gedung Yarnati ( kantor operasioanal Bappenas Jakarta Pusat) sehingga saya menginap di tempat keluarga di Bogor selama 3 hari dan kemudian pada Rabu sore, saya ke Cikini, Jakarta Pusat dengan naik kereta dari stasiun Bogor-Cikini. Kesempatan tinggal di Jakarta Pusat selama tiga hari tidak saya sia-siakan untuk mengunjungi gedung LPDP Kemenkeu, kantor Bappenas, dan mengitari Jakarta . Akhirnya, saya bisa sharing langsung  dengan CSO LPDP dan Bappenas. Semua dilakukan dengan modal nekad saja karena saya sendirian mengitari Jakarta Pusat naik bajaj, metromini hingga sempat nyasar  ke kediaman keluarga cendana., pasar Senen. Sungguh great experience !!!.
            Akhirnya, waktu yang dinanti-nanti pun tiba. Tepat hari Jumat, 19 Juni 2015, saya pergi ke gedung Yarnati, Jakarta Pusat untuk mengambil hasil tes TPA. Saya sangat deg-degan juga berapa skor TPA yang pertama ini. Sepanjang perjalanan menuju gedung, saya terus berdoa semoga Allah memberikan hasil terbaik. Ternyata saya pun dibuat semakin penasaran dan deg-degan, rasanya jantung mau copot..hehe. karena kantor operasional Bappenas pindah ke Wisma Bakrie 2 di daerah Kuningan. Karena ingin mengejar waktu, saya memutuskan naik taksi saja dari Jakarta Pusat ke Kuningan (padahal komitmen saya anti naik taksi selagi ada metromini karena yaa alasan klasik..hemat ongkos ^^).
            Tibalah saya di Wisma Bakrie 2,tempat pengambilan sertifikat TPA OTO Bappenas. Jantung ini rasanya mau copot takkala perlahan-lahan membuka amplop dan melihat skor. Semua perjuangan akhirnya membuahkan hasil terbaik, ternyata Allah memberikan karunia lagi. Alhamdulilah tes TPA pertama saya tembus skor 537,77. Saya pun langsung sujud syukur dan meneteskan air mata karena awalnya saya tidak yakin bisa mencapai skor 500 an untuk tes pertama kali ini. Dengan modal sertifikat ini, saya bisa mendaftar ke PTN terbaik misalnya UGM dan ITB. Alhamdulilah, Allah  selalu menurunkan pertolongan bagi hamba-Nya yang senantiasa berusaha, ikhlas dan tak henti meminta kepada-Nya. Soo.. bagi siapapun yang berasal dari kaum wong cilik yang memiliki mimpi besar, teruslah berani mencoba dan mencoba. Jangan malu dengan status sosial, biarkan kritikan pedas terus menghampiri, jadikan itu sebagai motivasi dan jangan lupa bertawakal kepada-Nya, terus bersyukur dan ikhlas,  menghormati orang tua, guru, dosen, rekan-rekan sejawat. Semoga pengalaman saya bisa memotivasi.
            Akhirnya, sertifikat TPA pertama dengan skor 537.77, saya simpan rapi-rapi untuk modal mendaftar PTN pada tahun ajaran 2016/2017. Perjuangan belum selesai sampai disini, ini masih permulaan karena selama setahun kedepan, saya kembali mengabdi dulu di sekolah sebelum menetap di bumi perantauan. Saya pun masih menunggu pengumuman LPDP yang insyaallah akan keluar pada bulan Agustus 2015 ( hasil seleksi berkas) dan September ( hasil wawancara). Nantikan cerita selanjutnya yaaa...Insyaallah saya akan dipanggil wawancara di Bintaro, Jakarta Selatan pada bulan Agustus nanti.  Amin^^. Yaa tentunya benar-banar berangkat sendirian lagi. Hehe. Insyaallah akan ada cerita-cerita indah berikutnya.
Sedikit TIPS untuk sukses tes TPA bagi  yang pertama kali mengikuti :
  • Seringlah mantengin web bappenas untuk melihat jadwal tes TPA (search ada di google dengan keyword “ jadwal tes TPA Bappenas langsung keluar kok... hehe ^^) atau kunjungi web ini http://koperasi.bappenas.go.id/tpabappenas/jadwal-tpa/

Kamis, 23 April 2015

Menjadi Guru Privat sejak Duduk di Bangku SMP



Menjadi Guru Privat sejak Duduk di Bangku SMP
Monasari, S.Pd

            Tidak semua anak bisa merasakan kebahagiaan saat masa remaja. Hal ini terjadi dengan saya. Semuanya bermula saat ayah meninggal dunia ketika saya duduk di bangku SMP kelas VIII.  Beliau meninggal karena menderita penyakit paru-paru basah. Sepeninggal Ayah, kehidupan kami pun menurun drastis, mulai dari kondisi ekonomi keluarga, dan tekanan  psikologis ibu, saya dan adik perempuan saya. Banyak orang yang menduga saya dan adik akan putus sekolah. Kondisi perekonomian keluarga yang semakin menurun ini membuat Ibu saya harus bekerja menjadi tukang cuci agar kami bisa tetap makan dan sekolah karena  bagi Ibu, beliau rela berjuang sampai berdarah-darah agar kami bisa tetap sekolah. Kondisi ini membuat saya sebagai anak pertama pun  mulai berpikir untuk membantu meringankan beban Ibu. Kebetulan, saya selalu menjadi juara kelas saat SD dan Juara Umum I saat kelas VII dan VIII di SMPN 14 Palembang. Beberapa teman dan tetangga saya pun sering meminta diajari pelajaran yang belum dimengerti seperti matematika, fisika, dan biologi terkadang saya diberikan makanan, uang jajan dan perlengkapan sekolah. Seiring berjalannya waktu, semakin banyak teman-teman meminta saya menjadi guru privat mereka. Saya pun tidak menolak karena saya memang suka berbagi ilmu dengan mengajari mereka dan tidak pernah saya meminta imbalan untuk gaji. Namun, beberapa dari mereka tetap memberikan uang berkisar Rp 20.000-Rp 30.000/bulan. Saya sangat bersyukur atas rezeki ini karena bisa membantu untuk sekolah adik saya yang masih SD. Karena prestasi ini, saya juga mendapatkan beasiswa dari Bank BNI sebesar Rp 1000.000 untuk biaya sekolah.

Rabu, 03 Juli 2013

Komunitas Belajar Qaryah Thayyibah “Sekolah Global Berbasis Kecerdasan di Desa Kalibening “


Komunitas Belajar Qaryah Thayyibah
“Sekolah Global Berbasis Kecerdasan di Desa Kalibening  

Tulisan ini saya buat ketika  kunjungan PKL Pendidikan Fisika Universitas Sriwijaya pada tanggal 23- 1 Juli 2013 . Pada Tanggal 29 Juni, kami kunjungan  ke Komunitas Belajar Qaryah Thayyibah di Desa Klaibening, Salatiga , Jawa Tengah...Setelah beberapa jam berada disana banyak pengalaman dan ilmu yang kami dapatkan sehingga saya bisa menuliskan tentang komunitas ini......

This is it.....
Check it out,,,,

Komunitas belajar Qaryah thayyibah lahir dari  keprihatinan Bahruddin melihat pendidikan di tanah air yang makin bobrok dan semakin mahal. Komunitas ini berdiri pada pertengahan tahun 2003. Komunitas ini berlokasi di Jalan Raden Mas Sa’id No. 12 Kalibening, Salatiga, Jawa Tengah , Indonesia
Adapun latar belakang belakang berdirinya komunitas belajar ini adalah :
Ø  Ketidakmampuan masyarakat sekitar untuk menyekolahkan anak-anak mereka di sekolah formal yang mahal.
Pada pertengahan tahun 2003 anak pertama Bahrudin , Hilmy, akan masuk SMP. Hilmy telah mendapatkan tempat di salah satu SMP favorit di Salatiga. Namun, Bahruddin terusik dengan anak-anak petani lainnya yang tidak mampu membayar uang masuk SMP negeri yang saat itu telah mencapai Rp 750.000, uang sekolah rata-rata Rp 35.000 per bulan, belum lagi uang seragam dan uang buku yang jumlahnya mencapai ratusan ribu rupiah.
“Saya mungkin mampu, tetapi bagaimana dengan orang-orang lain?”
tuturnya.
Bahruddin yang menjadi ketua rukun wilayah di kampungnya kemudian berinisiatif mengumpulkan warganya menawarkan gagasan, bagaimana jika mereka membuat sekolah sendiri dengan mendirikan SMP alternatif. Dari 30 tetangga yang dikumpulkan, 12 orang berani memasukkan anaknya ke sekolah coba-coba itu. Untuk menunjukkan keseriusannya, Bahruddin juga memasukkan Hilmy ke sekolah yang diangan-angankannya.
“Saya ingin membuat sekolah yang murah, tetapi berkualitas. Saya tidak
berpikir saya akan bisa melahirkan anak yang hebat-hebat. Yang penting
mereka bisa bersekolah,” kata Bahruddin.
Ø  Bergesernya paradigma pendidikan sekarang yang berorientasi pada ijazah, sertifikat dll

Ø  Realitanya, pendidikan sekarang tidak berbasis pada kecerdasan anak .
Pendidikan sekarang tidak menjadikan anak mandiri dan kreatif tetapi semakin konsumtif. Hal ini didasarkan pada pengalaman si pendiri sendiri, Pak Bahrudin. Dia pernah menjuarai taekwondo se-Jawa Tengah  tetapi ia malah gagal ketika diuji mata pelajaran Olahraga. Saat itu, ia pernah diuji mata pelajaran olahraga namun justru nilainya terburuk karena dia tidak bisa menjawab pertanyaan “ berapa tinggi mistar gawang sepak bola ? “ . Padahal ia adalah salah satu atlet olahraga yang berprestasi. Jadi pendidikan sekarang tidak aka sinergi antara kehendak institusi / Negara dengan basis kecerdasan anak.  Realitanya, anak dituntut untuk mengikuti standar institusi yang kurang sesuai dengan kemampuan anak. 

Selasa, 04 Desember 2012

Makalah “Pengembangan Model Pembelajaran Fisika dengan Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL)”



Kata Pengantar
Assalamualaikum wr.wb
Puji syukur atas ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas karunia-Nya, penyusun dapat menyelesaikan makalah Pengembangan Model Pembelajaran Fisika dengan Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) dengan tepat waktu. Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Belajar dan Pembelajaran.
Kerangka materi yang tersaji dalam makalah ini disusun berdasarkan buku-buku referensi, serta jurnal UPI yang berkaitan dengan mata kuliah Belajar dan Pembelajaran. Adapun materi yang disajikan dalam makalah ini secara ringkas adalah :
1.      Pengertian Model Pembelajaran CTL
2.      Prinsip dan Karakteristik Model Pembelajaran CTL
3.      Komponen- Komponen Model Pembelajaran CTL
4.      Sintaks Model Pembelajaran CTL
5.      Kelebihan dan Kelemahan Model Pembelajaran CTL
6.      Analisis Pembelajaran Fisika dengan Pendekatan Pembelajaran CTL
Akhirnya, penyusun menyadari kalau makalah ini masih banyak memiliki  pembaca sebagai referensi untuk perbaikan dalam penulisan makalah berikutnya. Akhir kata, penyusun berharap semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi para pembaca.
Wassalamualaikum wr.wb
Inderalaya,   September  2012

Penyusun



Bab 1 Pendahuluan
1.1  Latar Belakang

Mutu pendidikan sangat bergantung kepada kualitas pelaksanaan pendidikan disekolah-sekolah, tercermin dalam keberhasilan belajar siswa.Proses pembelajaran merupakan salah satu tahap yang sangat menentukan terhadap keberhasilan belajar siswa. Berhubungan dengan hal tersebut telah dilakukan banyak upaya oleh pemerintah dalammemacu dan meningkatkan kompetensi guru yang baik.
Fenomena yang ada memperlihatkan bahwa pembelajaran fisika hingga beberapa tahun terakhir ini dikategorikan rendah (Sarjono). Fenomena ini memberikan indikasi bahwa kemungkinan pembelajaran dipandang oleh sebagian besar guru sebagai proses pentransferan ilmu pengetahuan, akibatnya didalam proses pembelajaran masih menjadi link yang putus dengan pemrosesan kognitif yang terjadi dalam benak siswa, sehingga strukturisasi pemahaman konsep fisika yang terjadi pada benak siswa masih tetap lemah,siswa mengalami kesulitan memahami konsep-konsep fisika. Kebiasaan mereka belajar fisika yang berorientasi pada rumus-rumus jadi dalam pembahasan soal-soal secara langsung tanpa menghiraukan konsep-konsepnya.
Pendapat yang menyoroti rendahnya mutu pendidikan khususnya bidang sains IPA, disebabkan oleh:
· Cara mengajar guru-guru sains kurang menarik dan monoton.
· Guru kurang menguasai materi yang diajarkan.
· Guru kurang memberi kesempatan bertanya kepada siswa.
· Sebagian besar guru menyampaikan informasi dan rumusan konsep yang sudah jadi, tanpa mempedulikan munculnya rumusan konsep tersebut.
· Proses belajar mengajar masih terpusat pada guru, guru mendominasi proses belajar mengajar, sehingga siswa mengambil posisi pasif sebagai pembelajar karena segalanya telah diatur dan didominasi oleh guru.
· Proses beajar mengajar tidak dibiasakan untuk memecahkan permasalahna dalam kehidupan sehari-hari yang ada hubungannya dengan konsep yang sedang dipelajari, terlebih lagi tidak dibiasakan menyelesaikan suatu persoalan ditinjau dari perspektif konsep yang benar, sehingga menyebabkan siswa tidak terampil atau cakap dalam
memecahkan masalah.
Implikasi dari semuanya itu, guru harus dapat menciptakan suasana pembelajaran yang dapat menggali pengetahuan awal siswa, sehingga siswa dapat mengembangkan pengetahuan yang didapat serta secara aktif dapat menyeleksi, menyaring, memberi arti, dan menguji kebenaran atas informasi yang diterimanya. Disamping itu, pembelajaran harus dapat menghubungkan pengetahuan atau bahan yang akan dipelajari dengan pengertian yang sudah dimiliki seseorang sehingga pengertiannya dapat dikembangkan. Dengan kata lain, pembelajaran harus diubah dari yang terpusat pada guru (teacher centered), menjadi pembelajaran yang terpusat pada siswa (student centered).

Dasar pendapat diatas merupakan pandangan kontruktivisme. Pendekatan
kontrukivisme sangat sesuai untuk meningkatkan minat belajar siswa dan meningkatkan kualitas belajar siswa. Dengan menggunakan pendekatan kontruktivis fisika diajarkan bukan hanya “produk” tetapi merupakan sebagai “produk dan proses” dan proses inilah yang menentukan produk tersebut. Pendekatan kontruktivis membangun pengetahuan yang merupakan proses perolehan pengetahuan bukan sebatas mentransfer pengetahuan guru kepada anak didik, tetapi anak didik membangun pengetahuannya sendiri, sehingga anak didik benar-benar mengalami proses pengetahuan tersebut.
Banyaknya permasalahan dalam proses pembelajaran yang harus dipecahkan mendorong para ahli pendidikan untuk mencari sebuah pendekatan dan model pembelajaran. Berbagai upaya perbaikan yang hendaknya dilakukan dalam pembelajaran fisika dimasa datang yaitu dengan mengubah pendekatan orientasi behaviorisme dengan pendekatan kontruktivisme. Pendekatan kontruktivisme lahir dari kekurangpuasan para ahli pendidikan terhadap proses pembelajaran yang menganut orientasi teori behaviorisme. Teori kontruktivisme menyatakan bahwa pengetahuan baru yang diterima siswa bukan hasil penstransferan ilmu dari guru kepada siswa melainkan pengetahuan itu dibangun oleh benak siswa itu sendiri.
Hasil dari penelitian Suyitno Kangiden, dkk (1998) mengenai variasi pembelajaran fisika dan kaitannya dengan hasil belajar siswa diperoleh kesimpulan bahwa pola pembelajaran materi pelajaran dikelas yang lebih menjamin peningkatan hasil belajar adalah pola pembelajaran konseptual. Disarankan agar guru berusaha meningkatkan kemampuan mengembangkan pola pembelajaran yang berbasis konsep dan hubungan antar konsep secara menyeluruh, guru hendaknya lebih dapat memperkaya wawasan antara lain dengan mengkaji lebih banayk buku dan mengembangkan pola pembelajaran konseptual.

            Berdasarkan permasalahan-permasalahan tersebut , maka penulis membuat makalah ini yang berjudul Pengembangan Model Pembelajaran Fisika dengan Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL )

1.2  Rumusan Masalah
1.      Jelaskan Pengertian dari model pembelajaran CTL ( Contextual Teaching and Learning ) !
2.      Sebutkan dan jelaskan prinsip dan karateristik dari model pembelajaran CTL !
3.      Sebutkan dan jelaskan komponen-komponen model pembelajaran CTL !
4.      Jelaskan sintak dari model pembelajaran CTL !
5.      Sebutkan dan jelaskan kelebihan dan kelemahan dari model pembelajaran CTL !
6.      Analisislah bagaimana pembelajaran fisika dengan pendekatan CTL !

1.3  Tujuan Penulisan Makalah
1.      Mahasiswa dapat memahami pengertian model pembelajaran Contextual Teaching and Learning ( CTL )
2.      Mahasiswa dapat memahami dan menjelaskan prinsip serta karakteristik model pembelajaran CTL
3.      Mahasiswa dapat memahami dan menjelaskan komponen-komponen model pembelajaran CTL
4.      Mahasiswa dapat memahami dan menjelaskan sintak model pembelajaran CTL
5.      Mahasiswa dapat menjelaskan kelebihan dan kelemahan dari model pembelajaran CTL
6.      Mahasiswa dapat menganalisis bagaimana pembelajaran fisika dengan pendekatan CTL 

Designed by Animart Powered by Blogger